Apa ya rasanya???
Aneh, asing, tak biasanya. Ah mungkin seperti itu atau jauh lebih dari itu sekarang. Satu hal yang memang gak bisa dipungkiri dari sebuah naluri manusia yaitu manusia itu berbeda satu sama lain baik itu fisik maupun psikis, dan bahkan bila kembar sekalipun. Jadi menurutku salah asumsi tentang adanya tujuh orang di dunia ini yang sama. Jelas itu merupakan hal yang konyol dan aneh, tapi itu hanya apa yang ada dalam pikiranku saja dan kalian boleh mengganggapnya bualan alay atau apalah terserah.
Bicara tentang perbedaan, ternyata masalah seperti itu juga tanpa sadar hadir dan menari-nari dalam kehidupan kalian dan tentunya saya saya sendiri. Perbedaan antara saya dengan orang tua, saudara, teman dekat, sahabat, bahkan dengan kucing tetangga sebelah (perlu diingat, saya tidak menjalin hubungan khusus dengan kucing tetangga saya. Entah ya, apa sebenarnya dosa yang saya perbuat sejak hari kemarin sehingga Tuhan mengadzab saya dengan sedikit cobaan yang tanpa diduga hadir dipenghujung petang kemarin malam. Dengan sukses saya dan teman dekat saya (boleh kalian mengganggap sahabat saya tapi perlu diingat saya tidak percaya sahabat itu ada ;-)..)cek cok layaknya ABG berebut cowok hanya karena miss comunication yang mampir dalam obrolan kami via situs jejaring sosial F(saya tidak menyebut facebook ya!!). Dan satu hal yang perlu kalian tahu bahwa, daripada kalian bergosip dengan orang lain tentang keburukan atau kekecewaan kalian terhadap seseorang, lebih baik tulislah unek-unek tersebut pada sheet yang tersedia dan jangan lupa jangan pakau inisial tertentu yang memicu ledakan. Gak tahu setan apa yang lagi menggelitik, tiba-tiba kita dihadapkan pada suatu realita betapa panasnya otak dan telinga membaca bait demi bait komen pada LCD dan layar ponsel. Pada awalnya hanya ingin curhat tentang orang lain, kemudian terjadi kesalahpahaman pada pembaca dan pada akhirnya terjadi sesi tanya jawab yang begitu menegangkan. Antara percaya dan tidak, antara yakin dan tidak, antara benar dan salah, antara bercanda dan serius, antara Jakarta dan Perth...semua berlalu dengan slow motion dan tidak berujung hingga saat ini. Tuduhan dan argumen yang terlalu hiperbola yang tertuju padaku jelas sangat memukul dan sulit dipercaya. Coba kalian berada pada posisiku dimana teman baik kalian tiba-tiba berkata kasar pada kolom komentar kalian diFB dan dengan lapang hati kalian minta maaf meski gatau apa kesalahan kalian dan menghapus si sumber masalah. Sebagai orang yang punya hati jelas teman kalian akan instropeksi diri dan ikut minta maaf supaya gak berlarut-larut. Bukan hal semacam itu ternyata yang saya dapatkan, justru si teman salah pengertian dan sok imut minta maaf dengan gaya orang-orang tertindas dan lemah. Bete banget ga sih kalau sudah seperti itu, bukannya saling mengingatkan dan belajar dari kesalahan tapi justru malah semakin keruh air diempang. Dan hebatnya lagi, sampai detik ini si teman gak sedikitpun berusaha ngobrol baik-baik denganku. Hmm,,,,apa Ya rasanya??? kalau sudah seperti ini apa ya kata yang pas untuk menggambarkan rasa dihati.
Buatku, menjadi orang yang lebih baik itu lebih susah daripada menjadi profesor dan sejenisnya tapi prinsip hidup yang terpegang erat dalam diri ini yang tak boleh hilang yaitu "buatlah orang yang ada disekitarmu menjadi lebih nyaman dan apapun masalah yang sudah dijernihkan jangan sampai diungkit-ungkit lagi apalagi dengan kawan sendiri". Pemikiran itu yang selalu kupegang untuk tetap bertahan hidup di tempat yang jauh dengan orang tua seperti ini.
Sulit dipercaya, meski kalian selama bertahun-tahun menjalin hubungan baik dengan teman suatu saat pasti akan tertusuk juga oleh mereka atau kita sendiri yang malah menusuk mereka. Bila hal seperti itu terjadi maka bukan darah yang berceceran dimana-mana akan tetapi kebencian dan rasa tak percaya yang akan berhamburan keluar. Dan saya berharap, apa yang terjadi padaku sekarang tak akan terjadi lagi dan boleh terjadi pada kalian saja(cari aman itu penting, heheh...)